Ane Gundah Teman…
Ada pertanyaan yang mendasar sebenarnya yang ane gundah dahulu kala. Pertanyaan itu tak lain adalah, Mengapa para Marxisme, orang Liberal, teman-teman Nasionalis, orang-orang Syiah ataupun para pemeluk agama lain melakukan sesuatu seusuai dengan ideoligi mereka. Melakukan apapun dalam hidup mereka untuk ideologi kita. Padahal jika kita lihat banyak sekali orang-orang cerdas dan berani datang dari kalangan mereka.
Anepun waktu itu mulai berfikir mengapa ya? Padahal bisa dibilang mereka jauh lebih baik dari saya. Mereka lebih banyak bertemu dengan orang lain. Bahkan mungkin mereka lebih banyak membaca buku dari saya. Mengapa mereka tidak menghadirkan Islam sebagai solusi atau sebuah ideologi. Mengapa orang-orang besar itu terlepas dari Islam. Mereka yang merupakan tokoh Nasional maupun Internasional apakah lebih bodoh dari saya?
Sayapun bertanya pada beberapa orang, hemm memang bertanyaya salah tempat kali ya (kalangan ikhwan semua). Bahkan ada yang menjawab bahwa “mereka telah dibutan oleh syaitan”.. Hemm,,, bagi saya jawaban seperti itu tidaklah memuaskan..
Lumayan lama pikiran itu hinggap di dalam otak saya. Hemm,,, setelah mengetahui pemikiran mereka dan melihat beberapa tokoh dari mereka.. Saya melihat bahwa secara normatif kita sama saja dalam memandang sebuah kebenaran yang umum (misalnya: jujur, tolong menolong).. Hanya saja akan sangat berbeda dan bertentangan ketika norma kebenaran itu ada dan masuk pada tataran idiologi (misalnya: hukum rajam atau potong tangan)..
Ternyata jawaban dari mengapa mereka semua melakukan hal itu sangat simpel ternyata. Mereka melakukan apa yang sesuai dengan ideologi mereka, karena mereka menganggap bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebuah kebenaran. Apa yang mereka lakukan adalah sebuah kebaikan, apa yang mereka lakukan adalah keharusan dan itulah yang dianggap benar oleh mereka. Saya hampir tidak pernah melihat bahwa mereka melakukan sesuatu berlandaskan ideologi mereka untuk sesuatu yang dianggap buruk oleh mereka.
Dari ini semua ternyata kebenaran dan kebaikan juga memiliki sebuah relativitas. Tergantung dari parameter mana kita melihat, dari Islamkah atau dari ideologi yang lain? Nah dari sini ana berfikir bahwa dakwah adalah membawa pemikiran manusia pada sebuah parameter kebenaran yaitu Islam, dimana hasil akhirnya adalah objek dakwah bisa menilai atau menentukan benar dan salah berdasarkan Islam. Bukan berdasarkan yang lain.
Mungkin ini sebabnya Rasulullah menjaga kemurnian aqidah dari para sahabat, bahkan pernah suatu ketika Umar membaca Ijil lalu Rasulullah melarangnya dengan tegas, karena Rasulullah tau bahwa tidak boleh ada parameter kebenaran yang lain selain Al Quran dan As Sunah.
“Telah kuwariskan kepada kalian dua sumber, bila kalian berpegang kepada keduanya, niscaya kalian takkan sesat, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah.” (HR. Muslim)
Kira-kira hadist itu jika ane bahasakan kembali, “maka ambilah paremeter benar dan salah relatif terhadap Al Quran dan Hadist, jangan yang lain”
Wallahualam

No Comments