Kebijakan Kapital dan Peran Negara
Lagi hot-hotnya otak ini meminta asupan pengetahuan lebih, jadi akhri-akhir ini sedang gress-gressnya untuk membaca buku. Beberapa buku bacaanpun telah diincer dan diselesaikan pembacaannya. Sayangnya memang beberapa buku bacaan tidak coba saya dokumentasikan mana yang menurut saya gagasan yang menarik dan layak untuk disimpan. Ya mudah-mudahan saja terus konsisten dengan blog jejak langkah ini, walaupun tagihan domain dan hostingnya sudah masuk ke email saya 
Saat ini lagi asik baca buku tebal karya Fahri Hamzah, Judulnya: Negara, Pasar dan Rakyat. Ya walaupun banyak kontroversinya orang ini, tapi jika dia mempunyai pengetahuan layak kita ambil ilmunya.
Sekilas review aja tentang buku ini, sekalian saya ingin mengutip beberapa hal yang menarik tentang kebijakan kapital dan minimalis Peran Negara. Buku ini lumayan tebal, ada 625 halaman. Isinya menurut saya sangat menarik walaupun (kondisi saya belum selesai membaca) menurut saya kajiannya tidak cukup dalam tapi bisa memberikan pengetahuan yang luas dan utuh bagi kita. Banyaknya pemikiran-pemikiran yang melatarbelakangi buku ini menjadi lebih menarik, cuma sayang jika orang awam yang membaca buku ini, mungkin akan merasa sedikit pusing, karena bahasa dan istilah yang digunakan cukup berat.
Mudah-mudahan saja bisa selesai menjamah buku ini. Coz masih banyak ni buku menarik yang ingin saya lahap
salah satu yang ingin sekali adalah buku The Art of War karya Sun Tzu. Berhubung baca buku Negara,Pasar dan Rakyatnya juga masih lama dan kondisi kantong juga menipis ditambah tagihan hosting dan domain blog ini, jadi kayaknya tidak bisa memiliki buku ini dalam waktu dekat 
Haduh prolognya terlalu panjang ya. Langsung aja ni kutipan yang menarik menurut saya tentang Kapital dan Minimalis peran Negara dari buku Negara, Pasar dan Rakyat, Fahri Hamzah
Selama kebijakan kapital menguasai gagasan ideal demokrasi, maka ruang sosial akan berada di bawah kekuasaannya pula. Dalam konteks ini diperlukan publikasi kebijakan dalam ranah publik yang lebih luas. Dengan demikian partisipasi dan kehendak warga negara akan lebih terakomodasi. Kekuasaan harus didistribusikan ke khalayak warga negara. Jika tidak kita akan kembali ke kekuasaan otoriter dan titanik.
Kecenderungan pada materi dan kapital membawa pada elitisme sistem pemerintahan dan negara. Dalam tradisi utilitarianisme klasik, berbagai kebijakan pemerintah terhadap rakyatnya bukanlah sebentuk tanggung jawab untuk mengakomodasi apa yang dikehendaki oleh rakyat, melaikan apa yang merupakan kepentingan terbesar yang diperoleh dari rakyat.
Jika demikian, mucul sikap pesimis urgensi keberadaan negara di era modern. Di bawah sistem demokrasi, kepentingan yang menjadi penguasa. Individu tidak memiliki peran, diganti oleh institusi-institusi organisasional yang dihuni oleh kelompok kepentingan. Tidak heran jika muncul berbagai gagasan untuk membuat peran negara menjadi seminimal mungkin, bahkan secara radikal hendak menghapus entitas negara.
Dari kutipan itu kita bisa tahu apa latar belakang ide dari memperkecil peran negara. Masih ada lanjtannya di bab berikutnya yang lebih menarik. Nanti di share lagi ya..


No Comments